Terjemah kitab : Safinatus Sholat
Penulis : Sayyid Abdulloh bin Umar Al-Hadhromi
Oleh : Siroj Munir
.........................................................................
الثالث: دخول الوقت وهو
زوال الشمس للظهر
وبلوغ ظل كل شئ مثله زائدا على ظل الإستواء
للعصر
وغروب الشمس للمغرب
وغروب الشفق الأحمر للعشاء
وطلوع الفجر الصادق المعترض جنوبا وشمالا للفجر
فتجب الصلاة في هذة الأوقات وتقديمها عليها
وتأخيرها عنها من أكبر المعاصي وأفحش السيئات
الرابع : ستر ما بين سرة الرجل وركبته وجميع
بدن المرأه إلا وجهها وكفيها
ويجب عليها ستر جزء من جوانب الوجه والكفين
وعلى الرجل ستر جزء من سرته وما حاذاها وجوانب ركبتيه
وعليهما الستر من الجوانب لا من أسفل
ويجب أن يكون الستر يمنع حكاية لون البشرة
وأن يكون ملبوسا أو غير ملبوس فلا تكفي ظلمة
وخيمة صغيرة
الخامس : استقبال القبلة بالصدر في القيام والقعود
وبالمنكبين ومعظم البدن في غيرهما إلا إذا اشتد الخوف المباح ولم يمكنه الاستقبال
فيصلي كيف أمكنه ولا إعادة عليه
السادس : أن يكون المصلي مسلما
السابع : أن يكون عاقلا فالمجنون والصبي الذي
لم يميز لا صلاة عليهما ولا تصح منهما
Ketiga: masuknya waktu
sholat, yaitu :
1. Tergelincirnya matahari
(condongnya cahaya matahari ke arah barat setelah sebelumnya tepat berada
ditengah) untuk sholat dhuhur.
2. Bayangan semua benda telah
melebihi bayangan yang sama dari benda tersebut (semisal panjang suatu benda 1
meter, bayangannya melebihi 1 meter) untuk sholat ashar.
3. Terbenamnya matahari untuk
sholat maghrib.
4. Terbenamnya sinar merah dari
matahari setelah terbenam untuk sholat isya’.
5. Munculnya fajar shodiq, yaitu
fajar yang sinarnya melintang kea rah selatan dan utara, untuk sholat fajar
(sholat shubuh).
Maka diwajibkan mengerjakan
sholat pada waktu – waktu ini, karena itu mengerjakan sholat sebelum masuk
waktunya dan mengakhirkannya dari waktunya adalah termasuk dari beberapa dosa
besar dan sekeji - kejinya perbuatan – perbuatan yang buruk.
Keempat: Menutup
bagian tubuh diantara pusar seorang pria dan lututnya, dan menutup semua bagian
tubuh wanita kecuali muka dan kedua telapak tangannya.
Selain itu diwajibkan bagi wanita
untuk menutupi bagian dari sisi - sisi muka dan kedua telapak tangan, dan
diwajibkan bagi lelaki menutupi bagian dari pusarnya dan bagian tubuh yang
sejajar dengannya dan juga sisi – sisi kedua lututnya.
Begitu juga diwajibkan bagi
keduanya untuk menutupi aurot dari arah sekelilingnya (depan, belakang, kanan
dan kirinya) bukan dari arah bawahnya (jika terlihat dari bawah sholatnya tetap
sah).
Diwajibkan pula penutupan aurot
tersebut dapat mencegah terlihatnya warna kulit (warna kulitnya tidak terlihat
dalam jarak ketika berhadap – hadapan dengan lawan bicara),
Dan diwajibkan pula yang dipakai
sebagai penutup aurot tersebut berupa pakaian atau yang lainnya (semisal tanah
liat). Maka dari itu tidak dianggap mencukupi keadaan yang gelap dan kemah yang
kecil (maksudnya sholat dengan tidak menutupi aurot didalam kegelapan atau
tenda yang kecil tidak sah, karena tenda kegelapan dan tenda kecil tidak
dianggap sebagai penutup aurot).
Kelima: Menghadap
kiblat dengan dada pada saat berdiri (bagi orang yang sholat berdiri), duduk
(bagi orang yang sholatnya dengan duduk), dan dengan kedua pundak dan sebagian
besar anggota badan pada selain keduanya 9selain sholat dalam keadaan berdiri
atau duduk). Kecuali apabila seseorang dalam keadaan takut yang diperbolehkan
menurut agama (seperti dalam peperangan, lari karena menghindari banjir,
kebakaran atau binatang buas) dan tidak memungkinkan baginya untuk menghadap
kiblat, maka dalam keadaan seperti ini seseorang bisa mengerjakan sholat
sebisanya (menghadap kea rah manapun) dan tidak diwajibkan bahinya untuk
mengulangi lagi sholatnya.
Keenam: orang yang
akan mengerjakan sholat adalah orang yang beragama islam.
Ketujuh: orang tersebut
sempurna akalnya, karena itu orang gila dan anak kecil yang belum tamyiz tidak
diwajibkan mengerjakan sholat dan sholat yang dikerjakan oleh keduanya tidak
sah.
....................................................................................................................................
Bab senjutnya ...